Latar Belakang
Membaca merupakan salah satu aspek
keterampilan berbahasa yang bersifat aktif reseptif.Selain itu, membaca juga
merupakan masalah yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan, sebab membaca
merupakan salah satu cara bagi individu dalam menyumbangkan pengetahuannya.
Bertambahnya pengetahuan dan perkembangan ilmu bagi seseorang didapat dari
membaca. Berkenaan dengan hal tersebut, apabila kegiatan membaca kita kaitkan
dengan kondisi masyarakat Indonesia yang pada umumnya ialah masyarakat yang
bisa dibilang masyarakat dengan kondisi tingkat membaca yang masih rendah.
Hal tersebut dikarenakan sebagian besar
masyarakat Indonesia, terutama pelajar belum menjadikan kegiatan membaca
sebagai kebutuhan yang mendasar. Padahal membaca sangat perlu.Dengan membaca
seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan
membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu
pengetahuan. Adapun pepatah yang mengatakan bahwa “membaca membuka
cakrawala dunia, perpustakaan adalah kuncinya”.
Artinya dengan membaca segala pengetahuan akan
kita ketahui dann pahami dan melalui perpustakaanlah sumber ilmu pengetahuan
sepanjang masa disimpan dan tak akan pernah punah karena disanalah tempat
sumber ilmu (buku) berada. Menyambung peryataan di atas yang menyatakan bahwa
membaca belum dijadikan sebagai kebutuhan yang mendasar, maka terlihat jelas
bahwa sikap yang dimiliki oleh pelajar masih belum mempunyai keinginan atau
minat membaca yang tinggi. Padahal membaca merupakan salah satu faktor penting
yang akan membantu anak untuk segera siap membaca. Minat membaca berpengaruh
besar terhadap kesuksesan anak sehingga perlu ditanamkan sejak dini.
Seperti apa kata Burke Hedges “Jika
ingin sukses, Anda harus melakukan apa yang orang-orang sukses lakukan. Dan hal
yang dilakukan orang sukses ialah membaca dan menjadi kaya”. Mengingat
pentingnya peranan membaca tersebut bagi perkembangan siswa, maka guru perlu
memacu siswanya untuk membaca dengan benar dan selektif. Sehubungan dengan hal
tersebut perlu adanya bimbingan khususnya bimbingan minat baca yang
dilaksanakan oleh guru. Sehingga perpustakaan sekolah dapat melanjankan
fungsinya sebagaimana mestinya. Selain itu, para siswa pun akan merasa senang
datang perpustakaan untuk membaca buku-buku pelajaran atau buku-buku yang
sifatnya sebagai penghibur, seperti komik, cerpen, novel, dan majalah atau
koran.
1.2 Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian
membaca dan minat baca?
B. Apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca?
C. Apakah pentingnya
minat baca?
D. Apakah prinsip-prinsip
dasar membaca?
E. Apakah tujuan dari
membaca?
F. Apakah motivasi
internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap minat baca siswa?
G. Bagaimana peran
perpustakaan dalam usaha menumbuhkan minat baca pada siswa?
1.3
Tujuan Penulisan
A. Memahami pengertian
membaca dan minat baca.
B. Mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca.
C. Mengetahui alasan
pentingnya menumbuhkan minat baca pada siswa.
D. Mengetahui
prinsip-prinsip dasar membaca.
E. Mengetahui tujuan dari
membaca.
F. Mengetahui hal-hal
yang berpengaruh dalam menumbuhkan minat baca siswa melalui motivasi internal
dan eksternal.
G. Mengetahui peran
perpustakaan dalam usaha menumbuhkan minat baca siswa.
2.1 Pengertian Membaca dan Minat Baca
Membaca merupakan salah satu aspek
keterampilan berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Media yang digunakan dalam
membaca berupa media bahasa tulis. Membaca memegang peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari, terutama bagi kalangan pelajar. Membaca adalah melihat
serta memahami isi dari apa yang tertulis, baik mengeja atau melafalkan apa
yang tertulis (KBBI, 2002:83). Membaca merupakan suatu proses menangkap atau
memperoleh konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, menginterpretasi,
mengevaluasi konsep-konsep pengarang dan merefleksikan atau bertindak seperti
yang dimaksud dalam konsep itu (Susanto, 2013). Sementara itu menurut Bram dan
Dickey (dalam Darmono, 2007:215) menyatakan bahwa membaca adalah kegiatan yang
dilakukan berupa penerjemahan simbol atau huruf ke dalam kata dan kalimat yang
memiliki makna bagi seseorang.
Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil
simpulan bahwa membaca merupakan kegiatan yang bersifat aktif reseptif dengan
cara memahami setiap isi dari apa yang tertulis dengan saksama.
Minat sering diartikan sebagai “interest”.
Minat bisa dikelompokkan sebagai sikap yang memiliki kecenderungan tertentu.
Minat tidak bisa dikelompokkan sebagai pembawaan, tetapi sifatnya bisa
diusahakan, dipelajari, dan dikembangkan.
Arthur J. Jones (dalam Supriyadi, 1986:73)
menerangkan bahwa minat adalah perasaan suka (like) yang berhubungan
dengan suatu reaksi terhadap sesuatu yang khusus atau situasi tertentu.
Semenatra itu Crow and Crow (Supriyadi, 1986:74) menjelaskan bahwa minat
menunjukkan kekuatan motivasi yang menyebabkan individu memberikan perhatian
kepada orang, benda, atau kegiatan.
Dari beberapa pendapat di atas, sekiranya
dapat diambil simpulan bahwa minat merupakan suatu dorongan atau keinginan
apada seseorang untuk /menjadi merasa tertarik pada sesuatu yang ia sukai.
Sementara itu, minat baca merupakan dorongan yang kuat pada seseorang untuk
membaca yang ditandai dengan menunjukkan ketertarikan pada berbagai lambang dan
simbol.
Darmono (2007:214) menyatakan bahwa minat baca
merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap
membaca. Minat baca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan
kegiatan membaca. Hal ini dikarenakan minat membaca merupakan salah satu faktor
penting yang akan membantu anak untuk segera siap membaca.
Senada dengan pendapat Darmono, Abd. Rachman
(1983:16) mengemukakan bahwa minat baca diartikan sebagai perwujudan perilaku
baca murid yang disebabkan oleh faktor-faktor pendorong tertentu, baik oleh
faktor internal maupun eksternal. Sementata itu, Dallman dkk (1982 dalam Hadi
Susanto, 2013) mengatakan bahwa minat membaca merupakan faktor terpenting dari
kesiapan membaca anak untuk belajar membaca.
Minat membaca pada anak sangat beragam, ada
yang ”ogah-ogahan” dan tidak peduli, ada pula yang sangat tertarik untuk
membaca yang ditandai dengan tertarik dengan media cetak, menikmati saat
menyimak sebuah cerita, mampu bercerita dengan baik, suka melihat-lihat gambar
di buku, mampu menceritakan sesuatu dari gambar, dan meminjam buku dari sekolah
untuk dibawa pulang.
Adapun jenis-jenis minat baca menurut Gage
(dalam Abd. Rachman, 1983:10), yakni
1. minat baca spontan,
kegiatan membaca yang dilakukan atas kemauan, inisiatif pribadi murid sendiri
tanpa pengaruh dari pihak lain atau pihak luar’.
2. minat baca terpola,
kegiatan membaca yang dilakukan murid sebagai hasil atau akibat pengaruh
langsung dan disengaja melalui serangkaian tindakan dan program yang terpola
terutama kegiatan program belajar mengajar di sekolah.
Spodek (1978 dalam Hadi Susanto, 2013)
menyatakan bahwa minat baca merupakan salah satu aspek dari kesiapan membaca,
dengan berbagai indikator, di antaranya :
a)
menunjukkan ketertarikan pada berbagai lambang dan simbol,
tertarik menyimak cerita,
b)
mampu bercerita dan mengucapkan sajak atau puisi, suka
melihat-lihat gambar dalam buku,
c)
mempunyai rentang perhatian yang cukup untuk mengamati urutan
gambar dalam buku,
d)
menceritakan suatu cerita dari sebuah gambar,
e)
meminjam buku untuk dibawa pulang atau membawa buku ke sekolah,
dan
f)
mencoba mengenali kata-kata tertentu dalam buku yang dikenalnya.
Lebih lanjut, Harris dan Liba (dalam Abd.
Rachman, 1983:11) menyatakan bahwa minat baca dilihat atau dinilai dari:
a. wujud pernyataan atau
pengakuan siswa terhadap objek-objek tertentu dan
b. wujud perilaku murid
dalam membaca. Jadi, dapat simpulkan bahwa apabila bila seorang individu
(siswa) sudah memiliki minat baca yang tinggi maka seorang individu (siswa)
tersebut akan suka membaca bacaan apapun (baik bacaan yang bersifat pengetahuan
umum maupun bersifat sebagai hiburan).
2.2
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Baca
Minat yang dimiliki oleh setiap orang
(pelajar) pastinya berbeda-beda, dengan kata lain tergantung pada masing-masing
individu. Dalam hal ini, minat tersebut dengan minat terhadap membaca. Minat
membaca tiap individu (siswa) tidaklah sama, ada pelajar yang suka dan hobi
membaca dan ada pula yang tidak hobi membaca.
Namun, minat baca setiap orang (siswa) juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti yang dikemukakan oleh Crow and Crow
(dalam Supriyadi, 1986:75) menyatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi
minat baca seseorang (pelajar), di antaranya: .
Pertama, kondisi fisik. Kondisi fisik memang mejadi
hal utama yang menjadi perhatian karena dengan kondisi fisik yang baik dan
sehat, maka keadaan seseorang (siswa) akan stabil. Hal itulah yang nantinya
juga akan berpengaruh terhadap aktivitas yang ia lakukan, misalnya saja
kegiatan membaca buku. Apabila kondisi fisiknya sehat, maka ia akan merasa
senang dan suka untuk membaca.
Kedua, kondisi mental. Tak ubahnya kondisi fisik,
kondisi mental seseorang (siswa) juga sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya
sehari-hari. Apabila mental seseorang sedang “down” (“jatuh”), maka
pelajar tersebut tidak akan merespon dengan baik apa yang akan ia kerjakan,
misanya saja membaca buku. Sebaliknya, jika mental pelajar tersebut “bagus”,
maka ia akan merasa senang dan suka untuk melakukan kegiatan membaca.
Ketiga, status emosi. Tak ubahnya kondisi fisik
dan mental, status emosi juga sangat berpengaruh terhadap kondisi tiap individu
(siswa). Apabila kondisi emosinya stabil dan baik, maka ia akan senang dan
ringan dalam melakukan kegaitan yang ia sukai, misalnya kegiatan membaca buku.
Namun, apabila emosinya sedang labil, maka seorang pelajar tersebut juga enggan
bahkan tidak mau untuk melakukan kegiatan apapun, tak terkecuali kegiatan
membaca.
Keempat, lingkungan sosial. Lingkungan sosial setiap
individu (siswa) pastinya berbeda-beda. Jika lingkungan sosial tempat individu
(siswa) tinggal adalah lingkungan yang baik, dalam artian lingkungan masyarakat
yang suka membaca, maka si pelajar tersebut secara tidak langsung pun akan
mulai suka dengan membaca, padahal ia sebenarnya tidak hobi membaca. Namun,
apabila lingkungan tempat tinggal si pelajar tidak “sehat”, dalam artian
kondisi masyarakat yang “amburadul”, maka ia pun juga akan terpengaruh menjadi
“amburadul” dan cenderung atau tidak mau melakukan kegiatan yang bermanfaat, seperti
kegiatan membaca.
Dari keempat faktor yang sudah disebutkan di atas, sekiranya
dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik, mental, emosi, dan lingkungan sosial
sangat berpengaruh terhadap setiap individu (siswa). Dengan kondisi fisik,
mental, emosi, dan lingkungan sosial yang baik dan sehat, maka setiap
individu (siswa) akan merasa senang melakukan kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat dan juga menambah wawasan pengetahuannya, seperti kegiatan membaca
dan dari sinilah minta baca seseorang (siswa) akan “tumbuh”.
2.3 Pentingnya Membaca Bagi Siswa
Menumbuhkan minat baca pada anak (siswa)
sangatlah penting karena membaca merupakan salah satu hal pokok yang bertujuan
agar si anak (siswa) mendapat pengetahuan yang banyak dan bermanfaat.
Leonhardt (1997, dalam Hadi Susanto, 2013)
menyatakan ada sepuluh alasan mengapa harus menumbuhkan minat baca pada anak,
yaitu:
1. anak-anak harus gemar
membaca agar dapat membaca dengan baik,
2. anak yang gemar
membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi,
3. membaca akan
memberikan wawasan yang lebih beragam sehingga belajar apa pun terasa lebih
mudah,
4. di tingkat SMU, hanya
anak-anak yang gemar membaca yang unggul dalam berbagai pelajaran dan ujian,
5. kemampuan membaca
dapat mengatasi rasa tidak percaya diri anak terhadap kemampuan akademiknya
karena akan mampu menyelesaikan tugas hanya dengan sedikit waktu,
6. minat membaca akan
memberikan beragam perspektif pada anak melalui beragam pandangan dari para
penulis sehingga anak terbiasa memandang suatu masalah dari berbagai sisi,
7. membaca membantu anak
memiliki rasa kasih sayang karena anak akan menemukan beragam pola kehidupan
dan cara menyelesaikan masalah tersebut secara wajar,
8. anak yang gemar
membaca dihadapkan pada dunia yang penuh dengan kemungkinan dan kesempatan;
9. anak yang gemar
membaca akan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam diri mereka, dan
10. kecintaan membaca
adalah salah satu kebahagiaan utama dalam hidup karena membaca merupakan
rekreasi jiwa.
Demikianlah beberapa alasan mengapa pentingnya
membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Dengan membiasakan dan mengajarkan anak
membaca sejak dini, maka secara tak langsung akan diperoleh manfaat dari
membaca, di antaranya:
a. dengan membaca buku
bermutu, seseorang memiliki keunggulan komparatif dibanding orang yang tidak
membaca,
b. dengan membaca
orang lebih terbuka cakrawala pemikirannya, dan
c. melalui bacaan, seseorang berkesempatan
melakukan refleksi dan meditasi (Putra, 2008:7).
2.4 Prinsip-Prinsip Membaca
Membaca merupakan proses berpikir yang
kompleks, atau juga disebut sebagai kegiatan aktif reseptif. Hal ini terdiri
dari sejumlah kegiatan mulai dari memahami kata-kata atau kalimat yang ditulis
oleh penulis, menginterpretasikan konsep-konsep penulis serta menyimpulkannya.
Kemampuan membaca setiap orang berbeda-beda. Setiap orang
memiliki kemampuan membaca sendiri-sendiri tergantung pada beberapa faktor,
misalnya tingkatan kelas, kecerdasan, keadaan emosi, hubungan sosial seseorang,
latar belakang pengalaman yang dimiliki, sikap, aspirasi, dan kebutuhan hidup
seseorang.
Membaca harus menjadi pengalaman yang
memuaskan dan menyenangkan. Seseorang akan senang jika telah berhasil
mempelajari sesuatu dengan baik dan merasa puas atas hasil bacaannya. Kemahiran
membaca perlu keahlian yang berkelanjutan. Demi mewujudkan semua itu, maka
seseorang perlu memiliki kemahiran membaca, ketrampilan-ketrampilan yang
dibutuhkan dalam membaca perlu diperhatikan sedini mungkin sejak seseorang
pertama kali masuk sekolah.
Dawson dan Bamman (dalam Abd. Rachman,
1983:7-8) mengemukakan ada sembilan prinsip dalam membaca, di antaranya:
a. Prinsip psikologis,
Seorang murid dapat menemukan kebutuhan dasarnya lewat bahan-bahan bacaan jika
topik,isi, pokok persoalan dan cara penyajiannya sesuai dengan kenyataan
individunya. Berdasarkan prinsip itu, dapat ditegaskan bahwa setiap murid
memiliki kebutuhan dan kepentingan individual yang berbeda. Perbedaan itu
berpengaruh terhadap pilihan dan minat baca setiap individu, sehingga setiap
murid memilih buku sesuai dengan minatnya.
b. Kegiatan dan kebiasaan
membaca dinyatakan atau dianggap berhasil atau bermanfaat jika murid memperoleh
kepuasan dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, yaitu rasa aman,
status dan kedudukan tertentu, kepuasan afektif. Kebutuhan itu berpengaruh
terhadap pilihan dan minat baca masing-masing individu.
c. Tersedianya sarana
buku bacaan kehidupan keluarga atau rumah tangga merupakan salah satu faktor
pendorong terhadap pilihan bahan bacaan dan minat baca setiap individu murid.
d. jumlah dan ragam
bacaan yang disenangi oleh oleh anggota keluarga juga berfungsi sebagai salah
satu pendorong terhadap pilihan bahan bacaan dan minat baca setiap murid. Atas
dasar prinsip itu, dapat ditegaskan bahwa minat baca setiap murid dapat timbul
karena kebiasaan dan kesenangan anggota keluarganya masing-masing.
e. Tersedianya sarana
perpustakaan sekolah yang relatif lengkap dan sempurna serta kemudahan proses
peminjamannya merupakan faktor besar yang mendorong terhadap pilihan bahan
bacaan dan minat baca murid.
f. Adanya program khusus
kurikuler yang memberikan kesempatan murid membaca secara periodik di
perpustakaan sekolah sangat mendorong perkembangan dan peningkatan minat baca
murid. Dengan kata lain faktor kurikuler yang berwujud pelaksaaan program
membaca secara teratur di perpustakaan.
g. Saran-saran teman
sekelas sebagai faktor eksternal dapat mendorong timbulnya minat baca murid.
Prinsip itu menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar berupa tukar pengalaman,
diskusi, dan sumbang saran yang dilakukan murid-murid dalam ruang kelas.
h. Faktor guru berupa
kemampuan mengelola kegiatan dan interaksi belajar mengajar, khususnya dalam
program pengajaran membaca. Kejelian guru dalam memperhatikan perbedaan selera
dan minat baca murid sangat mendorong pembinaan, pengembangan, dan peningkatan
mibat baca murid. Prinsip ini menegaskan bahwa kegiatan kurikuler merupakan
faktor pendorong dalam pembinaan, pengembangan, dan peningkatan minat baca
murid.
i.
Faktor jenis kelamin juga berfungsi sebagai pendorong perwujudan
pemilihan buku bacaan dan minat baca murid. Prinsip ini menegaskan bahwa
perbedaan jenis kelamin secara psikologis dan mendorong perwujudan selera dan
minat baca murid.
2.5 Tujuan Membaca
Secara umum tujuan orang membaca adalah untuk
mendapatkan suatu informasi (pengetahuan dan wawasan) baru. Namun, dalam
kenyataannya terdapat tujuan khusus dari kegiatan membaca seperti yang
diungkapkan oleh Darmono (2007:215), yaitu:
a. membaca untuk tujuan kesenangan.
Termasuk dalam kategori ini adalah membaca novel, surat kabar, majalah, dan
komik. Menurut David Eskey tujuan membaca semacam ini adalah reading
for pleasure. Bacaan yang dijadikan objek kesenangan menurut David adalah
sebagai “bacaan ringan”,
b. membaca untuk
meningkatkan pengetahuan seperti pada membaca buku-buku pelajaran, buku ilmu
pengetahuan. Kegiatan membaca untuk meningkatkan pengetahuan disebut juga
dengan reading for intelectual profit, dan
c. membaca untuk
melakukan suatu pekerjaan, misalnya para mekanik perlu membaca buku petunjuk
dan ibu-ibu membaca booklet tentang resep masakan. Kegiatan semacam ini
dinamakan dengan reading for work. Jadi, dari peryataan di atas
sekiranya dapat diambil simpulan bahwa tujuan membaca sangat beragam tergantung
dari jenis buku apa yang mau dibaca.
Hal berbeda tentang tujuan membaca dinyatakan
oleh Heilman (dalam Abd. Rachman, dkk, 1983:9) menyatakan bahwa tujuan dan
manfaat membaca antara lain:
·
menambah atau memperkaya diri dengan berbagai informasi tentang topik-topik
yang menarik.
·
memahami dan menyadari kemajuan pribadinya sendiri.
·
membenahi atau meningkatkan pemahamannya tentang masyarakat dan
dunia atau tempat yang dihuninya.
·
memperluas cakrawala wawasan atau pandanagn dengan jalan
memahami orang-orang lain.
·
memahami lebih cermat dan lebih mendalam tentang kehidupan
pribadi orang-orang besar atau terkenal dengan cara membaca biografinya.
·
menikmati dan ikut merasakan lika-liku pengalaman orang lain.
Dari peryataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat membaca pada
dasarnya terbagi atas
·
membaca untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi
kehidupan sehari-hari dan
·
membaca untuk memperoleh
kepuasan dan kenikmatan emosional.
2.6 Motivasi Internal dan Eksternal
Motivasi dalam membaca sangat penting karena
kerap kali kegagalan dalam membaca disebabkan oleh rendahnya motivasi. Darmono
(2007:217) minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh
seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat baca dapat tumbuh
dengan cara dibentuk. Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan teori dorongan.
Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya perilaku yang
mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan yang dimaksud ialah motivasi.
Dorongan-dorongan tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau
dapat dirangsang dari luar.
Motivasi yang berasal dari dalam merupakan
dorongan yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat
eksternal.
Dawson dan Bamman (dalam Abd. Rachman,
1983:11) motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari inisiatif,
kesadaran dan tujuan pribadi murid sendiri tanpa pengaruh pihak lain. Motivasi
ekstrinsik adalah motivasi yang timbul sebagai hasil atau akibat adanya
pengaruh pihak lain. Namun, dalam kenyataannya dorongan yang berasal dari dalam
diri seorang anak (motivasi internal) masih tergolong rendah.
Hal tersebut dibuktikan dengan kondisi anak
didik saat ini umumnya kurang menyenangi buku, minat baca tidak menonjol, dan
mereka lebih suka menonton televisi, dan jika mencari bahan rujukan untuk tugas
mereka lebih memilih mencari lewat internet, dengan pertimbangan lebih cepat
dan efisien. Padahal sumber rujukan dari internet belum tentu kebenarannya.
Membaca hanya dilakukan terbatas pada buku-buku pelajaran pokok yang digunakan
di sekolah. Itu pun dilakukan ada kesan “terpaksa” karena akan diadakan ulangan
atau karena guru memberi pekerjaan rumah. Ketekunan membaca hanya dimiliki
beberapa orang anak saja di sekolah. Akibatnya pengetahuan anak sangat
terbatas, penguasaan bahasa menjadi lambat bahkan kemampuan menangkap isi
bacaan juga rendah.
Adapun dorongan atau motivasi dari luar
(eksternal) yang justru biasanya lebih cenderung berpengaruh besar terhadap
minat baca seorang anak. Dorongan eksternal tersebut biasanya berasal dari
guru.
Peran guru disini bukan hanya sekadar mendidik
saja, melainkan juga harus memberikan motivasi pada anak didiknya, terutama
dalam hal menumbuhkan minat baca anak didiknya. Melihat pernyataan sebelumnya,
terlihat jelas bahwa motivasi dari dalam diri (internal) seorang anak didik
masih terbilang sangat kurang (belum ada kemauan yang tinggi) terhadap membaca.
Hal inilah yang menyebabkan pengetahuan mereka
(yang belum mempunyai minat baca tinggi) sedikit jika dibandingkan dengan anak
yang mempunyai kegemaran membaca. Semoga dengan adanya motivasi eksternal
(motivasi dari guru) anak didik dapat meningkatkan minatnya dalam membaca,
sehingga mereka tidak akan tertinggal dan pengetahuan mereka juga semakin baik.
Adapun teknik-teknik guru dalam menumbuhkan minat baca siswa adalah sebagai
berikut:
a.
Bacalah resensi buku-buku baru diberbagai penerbita. Jangan
pernanh ketinggaln dengan informasi tentang buku-buku baru. Semakin sering kita
melakukannya, semakin kita tahu buku-buku baru yang terbit.
b.
Jadilah anggota dari perpustakaan. Tetaplah berkunjung atau
meminajm, godaan membaca akan menjadi tinggi jika disekitar kita selalu ada
buku-buku pilihan yang menanti dibaca.
c.
Jangan malas mengunjungi took buku. Barangkali ada satu atau dua
buku yang sangat penting. Minat mebaca kitapn menjadi meningkat melihat
banyaknya tema-tema yang menjadi perhatian kita.
d.
Hadirilah acara-acara yang berkaitan dengan buku, seperti
seminar, pameran buku, atau bursa buku murah.
e.
Rencanakan jadwal membaca.
f.
Jangan kecil hati jika kita hanya sanggup membacanovel-novel
atau fiksi belaka.
g.
Bereksperimenlah dengan minat baca kita. M9salnya saja kita
selama ini, kita hanya membaca buku-buku ekonomi cobalah sekarang membaca buku
pengembangan diri.
h.
Perdalam mana yang kurang. Jika kita kurang memahami satu
bidang. Carilah buku-buku yang membahasnya dengan gambling.
i.
Cobalah membaca buku yang sedang ramai dibicarakan.
j.
Bacalah buku tentang tokoh yang kita kagumi.
2.7 Peran perustakaan
dalam menumbuhkan minat memmbaca siswa
Adapun peran yang harus dijalankan oleh
perpusatakaan dalam usaha menumbuhkan minat baca siswa, meliputi:
1.
Memilih bacaan yang menarik bagi8 npengguna perpustakaan.
Memilih bacaan sangatlah perlu. Perlunya memilih bahan bacaan tersebut karena
adanya suatu hubungan antar bahan bacaan dengan si pembaca. Seperi yang di
ungkapkan oleh muktiono (2003;77)
menyatakan ada delapan karakteristik buku yang menarik, diantaranya:
a.
Humor
b.
Karakter atau peran yang jelas
c.
Plot yang cepat
d.
Bab yang pendek dan singkat
e.
Teks yang sesuai dengan pembacanya
f.
Memilki relevansi dengan kehidupan anak
g.
Penyajian yang meanrik
h.
Menarik secara visual.
2.
Menganjurkan berbagai cara penyajian pelajaran dikaitkan dengan
tugas-tugas diperpustakaan.
3.
Memberikan ber4bagai kemudahan dalam mendapatkan bacaan yang
menari untuk pengguna perpustakaan.
4.
Memberikan kebebasan membaca secara leluasa kepada pemakai
perpustakaan. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi anak dalam mencari dan
menemukan sendiri bacaan yang sesuai dengan minatnya.
5.
Perpustakaan perlu dikelola dengan baikagar pemakai meras betah
dan sering berkunjung keperpustakaan.
6.
Perpustakaan perlu melakukan berbagai promosi kepada masyrakat
berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan dan berkaitan dengan peningkatan
minat dan kegemaran membaca siswa.
7.
Menanamkan kesadaran dalam diri pemakai perpustakaan bahwa
membaca sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam mencapai keberhasilan
sekolah.
8.
Memberikan penghargaan kepada siswa yang paling banyak meminjam
buku diperpustakaan dalam kurun waktu tertentu.
Adapun kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan
membaca siswa:
1.
Penyelenggaraan jam-jam diperpustakaan sekolah.
2.
Pemberian tugas membaca
3.
Mengajak siswa belajar diperpustakaan
4.
Penyelenggaraan lomba membaca
5.
Memiliki siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak
6.
Pemotivasian penerbitan majalah sekolah
7.
Penyelenggaraan pameran buku
8.
Penguasaan siswa membantu pustakawan diperpustkaan sekolah
9.
Penyelenggaraan program membaca
10. Memotivasi siswa agar
banyak membaca pada waktu luang.
11. Pemberian bimbingan
teknis membaca.
12. Proses bimbingan dari
guru itu sendiri.
KESIMPULAN
Membaca merupakan salah satu aspek
keterampilan berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Media yang digunakan dalam
membaca berupa media bahasa tulis. Minat membaca pada anak sangat beragam, ada
yang ”ogah-ogahan” dan tidak peduli, ada pula yang sangat tertarik untuk
membaca yang ditandai dengan tertarik dengan media cetak, menikmati saat
menyimak sebuah cerita, mampu bercerita dengan baik, suka melihat-lihat gambar
di buku, mampu menceritakan sesuatu dari gambar, dan meminjam buku dari sekolah
untuk dibawa pulang.
Adapun program atau kegiatan yang
perlu dilakukan oleh perpustakaan diantaranya:
1.
Penyelenggaraan jam-jam diperpustakaan sekolah.
2.
Pemberian tugas membaca
3.
Mengajak siswa belajar diperpustakaan
4.
Penyelenggaraan lomba membaca
5.
Memiliki siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak
6.
Pemotivasian penerbitan majalah sekolah
SARAN
Seorang guru hendaknya memberikan pengertian
kepada siswa bahwa perpustakaan sekolah merupakn salah satu sarana dalam
meningkatkan minat baca siswa. Seorang guru hendaknya menyelenggarakan
perpustakaan secara nyata agar tercipta kondisi perpustakaan yang ideal
sehingga diharapkan dapat meninngkatkan minat baca siswa. Siswa hendaknya mengisi
waktu luangnya dengan memanfaatkan perpustakaan sekoalh karena dapat menambah
wawasan ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKAA
Ilmunya sangat bermanfaat...
BalasHapusGood
BalasHapusboleh
BalasHapusnice
BalasHapusMakasih
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusGood
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusLanjutkat
BalasHapus